Skip to main content

13 Tradisi Dalam Rangka Menyambut Bulan Suci Ramadhan di Indonesia


Halo semuanya! Di artikel kali ini International’s Info akan memberikan informasi mengenai berbagai tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam rangka menyambut Bulan Ramadhan. Semoga informasi ini dapat menambah wawasan kalian.

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling dinantikan oleh seluruh umat Muslim di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia. Oleh karena itu, kedatangan Bulan Ramadhan selalu disambut "meriah" oleh seluruh umat Muslim di seluruh dunia termasuk Indonesia. 

Dalam menyambut Bulan Ramadhan, masyarakat Indonesia memiliki banyak tradisi atau ritual khas yang biasa dilakukan dalam menyambut dan memeriahkan bulan istimewa ini jadi tidak mengherankan bila Bulan Ramadhan selalu menjadi bulan yang paling berkesan dan paling dirindukan sepanjang tahun.

Beragam tradisi tersebut memiliki keunikan yang beragam bahkan sudah menajdi tradisi turun-menurun yang harus dilakukan. Berikut beberapa tradisi yang biasa dilakukan dalam menyambut Bulan Ramadhan dari berbagai sumber.

1. Nyadran - Jawa
Nyadran atau disebut juga Nyekar, merupakan tradisi khas masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur ketika mendekati Bulan Ramadhan. Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta yaitu sraddha yang berarti keyakinan. Sedangkan dalam bahasa Jawa, Nyadran berasal dari kata sadran yang artinya ruwah syakban yakni tradisi membersihkan makam keluarga, kerabat serta leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan di makam leluhur. Selain itu biasanya masyarakat Jawa Tengah juga melakukan selamatan atau kenduri di makam leluhur.

2. Nyorog - Betawi
Tradisi Nyorog adalah tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat Betawi. Kini tradisi nyorog memang tidak terlalu populer lagi. Sebagian masyarakat Betawi masih melakukan tradisi ini ketika Ramadhan tiba, biasanya dengan mendatangi rumah sanak saudara sambil membawa bingkisan yang berupa makanan khas Betawi sayur gabus pucung yang berbahan dasar ikan gabus digoreng, daging, ikan, ataupun bahan pokok rumah tangga. Tradisi nyorog ini bertujuan untuk mengikat tali silaturahmi sesama sanak saudara, agar hubungan tetap terjalin harmonis. Tradisi ini juga biasanya dilakukan orang yang lebih muda ke orang yang usianya lebih tua, dengan tujuan untuk meminta restu kelancaran ibadah puasa selama satu bulan.

Lain halnya dengan masyarakat Sunda yang memiliki kebiasaan makan bersama jelang bulan puasa.

3. Dugderan - Semarang 
Tradisi Dugderan sudah dilakukan sejak tahun 1881 yang sampai sekarang masih dilakukan. Bedanya Dugderan zaman sekarang sudah menjadi pesta rakyat yang rangkaian acaranya ada tari-tarian, karnaval, dan tabuh bedug. Acara ini juga biasanya digelar ketika satu sampai dua minggu menjelang bulan Ramadhan tiba. Di setiap Dugderan pasti Warak Ngendong(*) yang jadi simbol acara ini diarak dan ikut dalam karnaval dan biasanya karnaval akan dimulai dari Balai Kota. Sedangkan tradisi Dugderan pada jamannya diadakan untuk menentukan waktu awal puasa di Bulan Ramadhan, karena adanya perbedaan penentuan Ramadhan di masa itu.

(*)Warak Ngendog adalah maskot berupa kambing dengan kepala naga lengkap dengan kulit bersisik dari kertas warna warni yang terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan telur rebus sebagai lambang bahwa binatang itu sedang ngendog (bertelur dalam bahasa Indonesia). Disini telur dianggap sebagai makanan mewah ketika Dugderan pertama kali diselenggarakan.


4. Meugang - Aceh
Meugang merupakan tradisi khas masyarakat Aceh yang sudah berlangsung sejak masa Kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda. Kala itu Sultan Iskandar Muda memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagikan ke seluruh masyarakat, menjelang kedatangan Ramadhan.

Masyarakat Aceh menggelar tradisi Meugang selama tiga kali dalam setahun, yaitu saat Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Menyambut Ramadhan, tradisi Meugang berlangsung satu hari sebelum Ramadhan di areal pedesaan. Sedangkan di Aceh perkotaan, Meugang berlangsung dua hari sebelum bulan puasa.
Dalam tradisi ini, masyarakat Aceh akan menyembelih dan memasak daging serta menikmatinya bersama keluarga, kerabat dan yatim piatu sebagai bentuk rasa syukur selama 11 bulan mencari nafkah. Selain kambing dan sapi, ayam dan bebek juga ikut disembelih.  

Tradisi Meugang ini menjadi sebuah keharusan karena masyarakat Aceh percaya kebaikan dan keberkahan yang terjadi 11 bulan wajib untuk disyukuri. Pantang jika ada keluarga tidak memasak daging pada hari Meugang, apalagi Meugang memiliki nilai religius karena dilakukan di hari-hari suci umat Muslim. Serta bagi warga yang tidak mampu menyembelih kambing ataupun kerbau, tidak menjadi masalah mereka hanya diharuskan untuk membantu saja saat prosesi penyembelihan, karena setelahnya mereka juga akan menikmati daging hasil sembelihan tersebut bersama-sama.

5.Ziarah Kubro - Palembang
Sama seperti Nyadran, masyarakat Palembang juga biasanya melakukan ziarah ke makam-makan para leluhur dan juga ulama dalam rangka menyambut Ramadhan. Ziarah ke makam-makam para ulama ini disebut dengan Ziarah Kubro.  

6.Mohibadaa - Gorontalo
Tradisi ini dalam bahasa Gorontalo kurang lebih berarti menggunakan bedak dengan ramuan rempah-rempah tradisional sebagai baluran wajah (masker). Selain bulan Ramadhan, tradisi membalurkan ramuan campuran aneka rempah ini sebenarnya juga dilakukan untuk menjaga kecantikan wajah.
Namun, tradisi mohibadaa disebut lebih spesial menjelang Ramadhan karena puasa dapat membuat kulit wajah menjadi kering karena sepanjang hari tidak makan dan minum. Terlebih lagi, jika cuaca di Gorontalo cenderung panas menyengat.

Bahan ramuannya terdiri atas tepung beras, humopoto (kencur), bungale (bangle), dan alawahu (kunyit),” kata Jemi Monoarfa, penggiat pertanian tradisional di Gorontalo, saat berbincang dengan Kompas.com, Senin (21/5/2018). Jemi juga menyarankan, tepung beras yang dipakai berasal dari beras pulo (ketan). Menurut dia, tepung dari jenis beras ini lebih halus. Paket bahan rempah tradisional ini juga bisa dibeli di pasar tradisional dengan harga Rp 15.000.

7. Laku Lampah - Banyumas
Tradisi yang mewajibkan nunjukkan setiap anak-putu trah Bonokeling baik perempuan maupun laki-laki dari berbagai wilayah yang berjalan kaki tanpa alas kaki bersama-sama ke areal pemakaman leluhur setempat di Desa Pekuncen. Makam leluhur yang dituju adalah pusara Ki Bonokeling.

Jika sudah selesai dilakukan maka tradisi akan dilanjutkan dengan Rikat Akhir, yakni membersihkan lokasi makam Ki Bonokeling yang menjadi penutup rangkaian ritual. Para anak-putu pun pulang ke rumah masing-masing dan menyambut Ramadhan.

Trah Bonokeling, kata Sumitro, merupakan masyarakat adat Islam kejawen. Mereka hanya mengenal hisab berdasarkan almanak Jawa Alif Rebo Wage (Aboge) sebagai penentu hari besar keagamaan. Almanak Jawa Aboge juga menjadi panduan bagi trah Bonokeling dalam aktivitas sehari-hari.

8. Mungguhan - Sunda
Masyarakat Sunda di Jawa Barat pada umumnya menyambut kedatangan bulan puasa dengan tradisi Mungguhan. Acara mungguhan terdiri dari kegiatan kumpul keluarga besar, sahabat, dan teman-teman untuk saling bermaafan sambil menikmati sajian makanan khas. Maksud dari tradisi ini adalah untuk mempersiapkan diri menuju puasa.

Munggahan dilakukan oleh hampir semua golongan masyarakat Sunda dengan caranya masing-masing. Salah satu bentuk acara makan bersama yang dalam istilah orang Sunda disebut botram, dilakukan sambil bertamasya, baik di pegunungan, sawah, atau tempat wisata lainnya.

9. Megibung - Bali
Walaupun mayoritas masyarakat Bali beragama Hindu, tradisi menjelang puasa yang dilakukan oleh muslim Bali juga tidak kalah dengan upacara keagamaan Hindu. Tradisi Megibung biasanya dilakukan muslim Bali menjelang bulan puasa. Acara makan yang diselingin dengan obrolan ringan ini telah menjadi sebuah budaya yang berasal dari Karangasem, Bali. Megibung ini juga bisa diartikan sebagai makan bersama jadi dalam satu jamuan makan satu porsi nasi dan lauk pauk akan dimakan oleh sekitar 4-7 orang. 

10. Malamang - Minangkabau
Tradisi Malamang atau membuat lemang menjadi ritual khas masyarakat minang di Sumatra Barat dalam menyambut datangnya bulan puasa. Malamang berarti membuat lemang, yaitu makanan dari beras ketan hitam atau merah yang dimasukkan ke buluh bambu beralas daun pisang. Lalu, lemang disiram santan dan dipanggang dengan kayu bakar beberapa jam. Kegiatan membuat lemang inilah yang disebut malamang. Jika musim durian tiba, lamang banyak dihidangkan bersama buah durian.

Dalam pembuatan Malamang biasanya dibutuhkan beberapa orang yang mampu bekerja sama. Dimana mereka bekerja sama untuk mencari bambu sebagai tempat adonan, mencari kayu bakar untuk memanggang lamang, dan mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat lamang seperti beras ketan, santan, dan daun pisang serta mempersiapkan adonan dan memasukkannya ke dalam bambu.

Setelah Malamang jadi, biasanya akan dihantarkan ke setiap rumah sebagai permohonan maaf menjelang bulan suci Ramadhan.

11. Balimau - Minangkabau
Berbeda dengan Malamang, Balimau adalah tradisi mandi memakai air jeruk nipis yang dilakukan di kawasan dengan aliran sungai atau tempat pemandian. Tradisi ini dilatarbelakangi karena keinginan untuk membersihkan diri lahir batin sebelum memasuki bulan suci Ramadan. 

Menggunakan jeruk nipis karena pada masa silam masyarakat belum mengenal sabun seperti saat ini sehingga jeruk nipis atau limau menjadi pilihan membersihkan diri.

12. Gebyar Ki Aji Tunggal - Jepara
Gebyar Ki Aji Tunggal adalah tradisi perarakan (karnaval) yang diselenggarakan dalam rangka penyambutan bulan Ramadhan. Selain bertujuan untuk syiar, kegiatan Gebyar Ki Aji Tunggal ini juga dilakukan untuk mengingatkan masyarkarat Desa Karangaji, Jepara agar melakukan persiapan menyambut bulan suci Ramadhan, seperti menjaga diri dari maksiat dan meningkatkan amal ibadah. Karnaval ini juga bertujuan sebagai ajang silaturahim dan ungkapan rasa syukur atas jasa pendahulu yang mampu memberikan nilai-nilai kehidupan.

13. Malam Salawe - Gresik
Malam Selawe merujuk pada kata selawe atau 25 dalam bahasa Jawa. Ini adalah tradisi khas masyarakat Gresik, Jawa Timur, yang berlangsung pada malam ke-25 Ramadhan. Tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman Sunan Giri. Dimana masyarakat Gresik dan sekitarnya banyak yang memilih untuk menyepi (menjalankan itikaf) di Mesjid Giri dengan tujuan agar lebih khusyuk beribadah.

Sebenarnya masih banyak tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Namun tradisi-tradisi tersebut akan aku bagikan di artikel tradisi menyambut Bulan Suci Ramadhan part 2, jadi tunggu tanggal publishnya ya!

Demikian ke 13 tradisi yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat di seluruh Indonesia. Mna tradisi yang masih kalian lakukan hingga sekarang? Tinggalkan jawabannya di kolom komentar ya!

Thank you!

Comments

Popular posts from this blog

Mana Yang Lebih Baik, Beli Mobil Bekas atau Mobil Baru?

Halo semuanya! Jadi di artikel ini International's Info akan membagikan tips-tips yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam membeli mobil. Semoga informasi yang disampaikan dalam artikel ini dapat membantu kalian. Di zaman serba praktis seperti sekarang, banyak masyarakat mulai mempertimbangkan untuk memiliki kendaraan pribadi guna menunjang aktivitas mereka. Buat yang memiliki uang berlebih membeli mobil adalah pilihan yang tepat. Disamping harganya yang lebih mahal dibandingkan dengan harga sepeda motor, tingkat keamanan dan banyaknya muatan yang bisa dibawa juga menjadi bahan pertimbangan orang-orang untuk membeli mobil. Namun bagi yang memiliki budget terbatas, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli  mobil . Bentuk pertimbangannya adalah membeli mobil bekas secara tunai atau membeli mobil baru secara kredit. Sebelum menentukan pilihan dalam membeli mobil (baik itu membeli mobil baru ataupun bekas) perhatikan tips-tips berikut. 1. Sesuaika...

Dampak Buruk Gadget Pada Anak dan Cara Mengatasinya

Halo semuanya! Jadi di artikel ini International's Info akan membagikan informasi tentang dampak buruk yang mungkin ditimbulkan karena gadget pada anak. Semoga informasi yang disampaikan dalam artikel ini dapat membantu kalian dalam mengawasi penggunaan gadget pada anak-anak. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saat ini semakin maju. Komputer saja sudah berkembang dari generasi pertama hingga saat ini sudah memasuki generasi kelima. Tidak hanya komputer saja yang mengalami perkembangan, saat ini terdapat suatu perangkat yang dibuat lebih canggih dengan ukuran yang lebih kecil sehingga dapat digunakan dengan praktis. Perangkat ini dikenal sebagai gadget dalam bahasa Inggris dan gawai dalam bahasa Indonesia. Dalam kondisi seperti sekarang, gadget sudah menjadi barang yang sangat penting keberadaannya sehingga seperti pepatah sup tanpa garam itulah pentingnya gadget saat ini. Sesuai dengan tujuan utamanya yakni dapat digunakan dengan praktis, di dalam sebuah ...

5 Tips jitu Mengatur Keuangan Bagi Pengantin Baru

Halo semuanya! Jadi di artikel ini International's Info akan membagikan tips-tips mengelola keuangan bagi para pengantin baru. Semoga informasi yang disampaikan dalam artikel ini dapat membantu kalian dalam merencanakan keuangan. Bagi pasangan yang baru menikah tentu butuh waktu untuk menyesuaikan satu sama lain dalam berbagai hal, termasuk mengenai mengelola keuangan. 1. Saling Terbuka Soal Keuangan Satu Sama Lain Masih pacaran hal soal keuangan boleh ada yang ditutup-tutupi, namun setelah menikah semua hal harus terbuka termasuk soal keuangan. Setelah berkomitmen untuk menjalani hidup bersama, suami dan istri harus saling terbuka soal keuangan secara lebih mendetail. Terutama bagi mereka yang sama-sama bekerja, saling terbuka soal besarnya jumlah pendapatan dan utang masing-masing itu penting. Masalah keuangan dalam rumah tangga merupakan salah satu hal yang sangat harus diperhatikan karena jika saling terbuka satu sama lain maka tidak akan ada lagi ribut-ribut dala...